Facebook just asked me "what's on your mind?" by the time i clicked to my acc homepage,and i just read a comic blog about this things. i tell blogger.com what's on my mind instead of telling it to facebook. So here it is, Facebook as the number one(based on how many other soc-media appears on our Facebook homepage rather than our other sic-med acc) gua pingin mengutarakan pikiran gua, tetapi gua mengalami kendala dalam meng-organize poin-poin gua, jadi akan gua coba uraikan
ada beberapa hal yang membuat gua penasaran, akan bagaimana orang-orang lain melihat hal ini, social media dan internet. Gua sedang menjalani musim liburan dan teman-teman lain belum kembali dari perantauannya, karena itulah gua banyak menghabiskan waktu didepan laptop, disamping urusan kerjaan gua lebih banyak memantau account2 social media gua, hanya sebagai silent reader dan beberapa kali membalas komentar,Berangkat dari situ, gua ingin bertanya, berapa banyak dari kita yang hidupnya akhir-akhir ini terbentuk berdasarkan social media? that you create social media as a kind form of parents that comforts your needs of being acknowledged. maksudnya begini, semua post yang kits bust di social media itu, semua tulisan, semua foto yang kita unggah, bahkan saat kita memilih kata-kata saya/anda daripada gua/elo di status kita yang kita buat sepuitis atau segagah mungkin adalah hasil dari sesuatu yang kita lihat setiap hari di layar gadget, dan kita sama sekali tidak sadar.
post ini berangkat dari post gua sebelumnya, gua suka seni puisi dan suka membuat karya-karya yang mendekati puisi (gua gak tau apakah yang gua buat itu layak disebut puisi) gua kerap memasang tulisan-tulisan puitis itu di beragam acc socmed gua, semuanya berangkat dari pemikiran bahwa karya puisi yang lahir dari pikiran gua ini sayang bila di simpan sendiri dan akhirnya gua bagikan, tetapi dibalik itu semua rupanya ada alasan sebenarnya. bagaimana gua ingin di kenali, bagaimana orang aware bahwa ada keberadaan bernama jeremy panjaitan, dibalik semua karya yang gua post di internet itu, ada keinginan untuk memajukan nama gua sendiri daripada karya yang gua post, kita menganggap itu wajar toh semua orang juga seperti itu, sadarkah setiap tweet kamu yang berbau puitis dan setiap kata-kata saya/anda yang kalian pakai (daripada memakai kata-kata gua/elo) karya-karya kalian, status galau kalian, komentar kalian, atau apapun itu, semuanya didasari oleh keinginan ingin di recognize?
untuk setiap komentar-komentar yang datang dibawah postingan kamu, selanjutnya itu semua terbaca sebagai "iya, kita lihat elu kok" "iya kita
aware akan elu kok"
Bahkan kadang lucu juga beberapa dari teman-teman ada yang berteriak-teriak menyerukan privasi, tapi setiap tulisannya di acc social media sangat-sangat menelanjangkan privasi dari dia sendiri.
we create our own image, we write things and we want people to see us as great as our writings, even if we are not an social media addicts, well it doesnt need to be an addict.
how a shared pic of a place that we just visited, can be read as: im here muthafucka, u are not.
how a pic of our stuff can be read as: i have this and u are not, face it.
how a single status that wrote as "all by myself" could be read as "look at me im alone"
i mean there's a hidden message under it all
maybe some of you will say "yeah im not the one who writes a blog post about that and spend his holiday season in front of a laptop"
dude, we making our self arent real, we all a junkie ,we all need to become one.
>well i guess that line i write previously pretty much sums up all of my point, that every post we make is just a variation on a single request: to be acknowledged.
it is not a bad thing, pardon me if i write it like it is a bad thing, i dont wanna judge people because i did it to beyond my awareness, well
all i want to say is.
>did we become things that i wrote?
looks like im thingkin too much, or since i start my education on visual communication, or i just wanna be acknowledged just like the rest of us people :) dang!
iya, gua udah sarapan kok
merry christmas and happy new year :)
ps: pardon my english, it just popped out of my mind.
Saturday, December 28, 2013
Monday, December 16, 2013
kadang suka membuat puisi, atau sajak, atau apapun itu namanya.
Kadang indah dibaca, kadang ingin gagah di depan banyak mata.
tetapi tidak mau bermegah dibalik kata-kata puitis, seperti kamu teman-temanku.
hidup itu sederhana, tafsirannya saja yang hebat-hebat.
sepertinya,
kalau kata teman saya: tidak semua parit di aliri air, tidak semua punya arti.
Oh.
Kadang indah dibaca, kadang ingin gagah di depan banyak mata.
tetapi tidak mau bermegah dibalik kata-kata puitis, seperti kamu teman-temanku.
hidup itu sederhana, tafsirannya saja yang hebat-hebat.
sepertinya,
kalau kata teman saya: tidak semua parit di aliri air, tidak semua punya arti.
Oh.
Saturday, December 7, 2013
Friday, November 15, 2013
18c!
Dingin ini rupanya semakin liar merasuk
begitu menggebu-gebu
mungkin ia tidak sabar
untuk bertukar sapa dengan hangat pagi.
sampai tulangku membiru
dan mengusir jauh putih kaku.
begitu menggebu-gebu
mungkin ia tidak sabar
untuk bertukar sapa dengan hangat pagi.
sampai tulangku membiru
dan mengusir jauh putih kaku.
Friday, November 1, 2013
Dalam sakit
waktu lonceng berbunyi
percakapan merendah, kita kembali menanti-nanti
kau berbisik: siapa lagi akan tiba
siapa lagi menjemputmu berangkat berduka
di ruangan ini kita gaib dalam gema. Di luar malam hari
mengendap, kekal dalam rahasia
kita pun setia memulai percakapan kembali
seakan abadi, menanti-nanti lonceng berbunyi
-Sapardi.
percakapan merendah, kita kembali menanti-nanti
kau berbisik: siapa lagi akan tiba
siapa lagi menjemputmu berangkat berduka
di ruangan ini kita gaib dalam gema. Di luar malam hari
mengendap, kekal dalam rahasia
kita pun setia memulai percakapan kembali
seakan abadi, menanti-nanti lonceng berbunyi
-Sapardi.
Thursday, October 31, 2013
perangai riang.
Ku masih ada di sini siap jalani hari.
Dengan setiap langkah, yang menemani aku.
Semakin dekat, Lebih dekat ku kepadamu.
Bahagiaku bersamamu.
Dengan setiap langkah, yang menemani aku.
Semakin dekat, Lebih dekat ku kepadamu.
Bahagiaku bersamamu.
C lantai 3.
Untuk mati di hijau taman
dan berteduh di bawah teman
sesudah waktu pekan
sampai nafasku menjadi pelan
biar kata-kata menjadi berkat
sesusah itukah untuk mati didalam diri sendiri?
dan berteduh di bawah teman
sesudah waktu pekan
sampai nafasku menjadi pelan
biar kata-kata menjadi berkat
sesusah itukah untuk mati didalam diri sendiri?
Wednesday, October 30, 2013
Bidal
seberapa susah untuk melayangkan maaf
seberapa mudah untuk memecah syaraf
seberapa banyak waktu untuk mengaduh
mengaduh bapa, untuk menyertakan jarak.
bapa, jauhkanlah tinju ku
atas kulit-kulit rekanku
di atas hitam hatiku
di bawah putihmu.
di samping semua lukaku
di depan riap-riap senyumku
agar lidahku tidak memotong
hati - hati kertas tipis
yang berujung bertebaran
di kepalan tinjuku.
aku mengasihimu.
seberapa mudah untuk memecah syaraf
seberapa banyak waktu untuk mengaduh
mengaduh bapa, untuk menyertakan jarak.
bapa, jauhkanlah tinju ku
atas kulit-kulit rekanku
di atas hitam hatiku
di bawah putihmu.
di samping semua lukaku
di depan riap-riap senyumku
agar lidahku tidak memotong
hati - hati kertas tipis
yang berujung bertebaran
di kepalan tinjuku.
aku mengasihimu.
Saturday, October 26, 2013
rehat
Kamu teralu tinggi untuk dipeluk malam
teralu dingin untuk dijabat pagi
untuk apa rehat di dalam kelam
kalau tidak berharap untuk dibagi
mungkin kamu sedang menangis
menangis untuk senang yang lebih besar lagi
biarlah waktu hanya sekedar nama
yakinlah kamu tidak sesepi yang pertama
aku bersamamu kawan kecil
didalam kata, didalam doa.
teralu dingin untuk dijabat pagi
untuk apa rehat di dalam kelam
kalau tidak berharap untuk dibagi
mungkin kamu sedang menangis
menangis untuk senang yang lebih besar lagi
biarlah waktu hanya sekedar nama
yakinlah kamu tidak sesepi yang pertama
aku bersamamu kawan kecil
didalam kata, didalam doa.
Subscribe to:
Posts (Atom)